Jakarta – Pembelajaran Akidah Akhlak di madrasah Muhammadiyah tidak boleh lagi berhenti pada penyampaian konsep dan teori. Lebih dari itu, pembelajaran harus mampu mengubah pengetahuan menjadi karakter, dan karakter menjadi kebiasaan hidup peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PP Muhammadiyah, Abdullah Mukti, saat menjadi narasumber dalam diskusi pembelajaran Buku Akidah Akhlak untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah, Rabu (15/7/2026).
Menurut Abdullah Mukti, tantangan pendidikan Islam saat ini bukan terletak pada keterbatasan materi ajar, melainkan bagaimana menghadirkan pembelajaran yang benar-benar membentuk cara berpikir, sikap, dan perilaku peserta didik.
“Akidah Akhlak tidak cukup dipahami sebagai mata pelajaran. Ia harus menjadi pengalaman hidup peserta didik yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan budaya sekolah,” tegasnya.
Karena itu, buku Akidah Akhlak yang disusun Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah tidak lagi dirancang sebagai kumpulan materi yang harus dihafal. Buku tersebut dikembangkan sebagai panduan pembelajaran yang mengajak peserta didik memahami nilai-nilai Islam, mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian merefleksikannya sebagai bagian dari pembentukan kepribadian Muslim yang berkemajuan.
Mengusung Pendekatan Deep Learning
Abdullah Mukti menjelaskan bahwa salah satu pembaruan penting dalam penyusunan buku adalah penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Setiap bab disusun melalui tiga tahapan utama, yaitu memahami, menerapkan, dan merefleksikan sehingga peserta didik tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi mampu menghubungkan materi dengan realitas kehidupan.
Sistematika buku juga dirancang lebih komprehensif. Setiap bab memuat tujuan pembelajaran, asesmen awal, aktivitas belajar, materi inti, penguatan Pelajar Berkemajuan, rangkuman, uji kompetensi, pengayaan, hingga refleksi. Menurutnya, struktur tersebut memberi ruang bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan menyenangkan.
Abdullah Mukti menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran Akidah Akhlak tidak cukup diukur dari nilai ujian atau hasil evaluasi di kelas. Nilai-nilai yang dipelajari peserta didik harus tumbuh menjadi budaya sekolah Muhammadiyah.
Karena itu, implementasi nilai-nilai Akidah Akhlak perlu diperkuat melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan berbagai program pembiasaan, seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan, literasi, pengajian, pembiasaan ibadah berjamaah, kepedulian sosial, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Kalau budaya sekolah sudah terbentuk, guru tidak lagi bekerja sendirian. Lingkungan sekolah akan ikut mendidik peserta didik menjadi pribadi yang religius, jujur, peduli, disiplin, dan cinta ilmu,” ujarnya.
Menjawab Tantangan Era Kecerdasan Buatan
Dalam diskusi tersebut juga dibahas pentingnya penyusunan buku yang responsif terhadap perkembangan zaman, termasuk hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Menurut Abdullah Mukti, derasnya arus informasi justru menuntut peserta didik memiliki fondasi akidah dan akhlak yang kokoh agar mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, bertanggung jawab, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
Selain memperkenalkan buku Akidah Akhlak, Abdullah Mukti juga mendemonstrasikan materi pembelajaran yang telah tersedia pada platform digital KontenMu. Platform tersebut menyediakan berbagai video pembelajaran hasil karya guru-guru Muhammadiyah sebagai pelengkap buku ajar.
“Ini adalah karya para guru Muhammadiyah. Kita ingin membantu guru agar lebih mudah mengajarkan Akidah Akhlak. Dengan dukungan video pembelajaran di KontenMu, proses belajar menjadi lebih hidup sehingga peserta didik lebih antusias dan lebih mudah memahami nilai-nilai yang dipelajari,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran KontenMu bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan memperkuat kreativitas guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui integrasi bahan ajar cetak dan media digital.
Abdullah Mukti menjelaskan bahwa dalam kurikulum Muhammadiyah, akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Akidah menjadi fondasi keimanan, sedangkan akhlak merupakan manifestasi nyata dari keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Akidah tidak berhenti pada keyakinan yang tersimpan di dalam hati. Keimanan kepada Allah Swt. harus melahirkan akhlak yang mulia, keteladanan (uswah hasanah), dan perilaku yang membawa kebaikan bagi sesama,” jelasnya.
Menurutnya, orientasi pembelajaran Akidah Akhlak adalah melahirkan peserta didik yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara konseptual, tetapi juga menampilkan nilai-nilai tersebut dalam kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, kedisiplinan, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengutip pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, bahwa seluruh proses pendidikan Muhammadiyah harus bermuara pada terwujudnya Delapan Profil Pelajar Muhammadiyah.
“Akidah Akhlak harus menjadi fondasi pembentukan Profil Pelajar Muhammadiyah. Jangan sampai peserta didik hanya menguasai materi, tetapi tidak menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Abdullah Mukti menambahkan, pembelajaran Akidah Akhlak harus membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, unggul dalam ilmu pengetahuan, mandiri, berpikir kritis, kreatif, inovatif, mampu berkolaborasi, serta memiliki kepedulian sebagai warga dunia yang membawa rahmat bagi semesta.
“Ketika akidah tertanam kuat, akhlak akan tumbuh dengan sendirinya. Dari keyakinan kepada Allah Swt. lahir ketaatan kepada perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Itulah hakikat Profil Pelajar Muhammadiyah yang ingin kita bangun,” pungkasnya.
