Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah

BOGOR — Pendidikan kesehatan reproduksi remaja tidak cukup hanya berbicara tentang kesehatan fisik. Di dalamnya terdapat persoalan harga diri, tanggung jawab, relasi yang sehat, perlindungan diri, hingga kesiapan membangun keluarga pada masa depan.

Atas dasar itu, Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah memberikan dukungan terhadap riset yang dilakukan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) bersama United Nations Population Fund (UNFPA) untuk memetakan pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.

Riset ini diarahkan untuk menghasilkan asesmen komprehensif mengenai sejauh mana pendidikan kesehatan reproduksi telah terintegrasi dalam kurikulum sekolah, madrasah, dan pesantren Muhammadiyah. Langkah tersebut dinilai penting karena pendidikan Muhammadiyah memiliki karakter dan kekhasan sendiri, terutama dalam memadukan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Koordinasi riset telah dilakukan dalam dua tahap, yakni 11 Agustus dan 19 Agustus 2026. Pertemuan kedua yang berlangsung di Bogor melibatkan Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Pesantren Kementerian Agama, Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PP Muhammadiyah, PP Nasyiatul Aisyiyah, serta Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga dilibatkan dalam kegiatan koordinasi untuk proses penyusunan desain dan instrumen penelitian. Ini karena UGM telah mengadakan penelitian sejenis tahun 2025 bersama UNFPA untuk semua mata Pelajaran.

Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, menegaskan bahwa pendidikan KRR yang komprehensif dibutuhkan agar remaja memperoleh informasi yang akurat, memiliki harga diri, serta mampu menghindari berbagai penyimpangan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Namun, menurutnya, penerapan KRR di lingkungan pendidikan Muhammadiyah memiliki konteks tersendiri. Karena itu, diperlukan asesmen yang mampu memetakan bagaimana nilai-nilai kesehatan reproduksi dapat diintegrasikan secara kontekstual ke dalam kurikulum nasional maupun kurikulum khas Muhammadiyah.

“Pemetaan” menjadi kata kunci dalam riset ini. Bukan sekadar mencari apakah materi KRR sudah ada atau belum, tetapi melihat di mana materi itu berada, bagaimana substansinya disampaikan, dan bagian mana yang masih perlu diperkuat.

Pemetaan akan mencakup beberapa lapis kurikulum. Pertama, kurikulum nasional yang digunakan sekolah, madrasah, dan pesantren. Kedua, kurikulum khas Muhammadiyah, termasuk ISMUBA—Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab. Ketiga, materi pembelajaran pada berbagai mata pelajaran, termasuk mata pelajaran nonagama.

Kajian juga diarahkan pada berbagai bahan ajar, antara lain buku teks MIPA, IPAS, materi ISMUBA, serta modul pembelajaran pesantren. Dengan demikian, riset diharapkan tidak berhenti pada dokumen kurikulum, tetapi mampu melihat bagaimana pengetahuan kesehatan reproduksi sesungguhnya hadir dalam proses pendidikan.

Perwakilan UNFPA, Margaretha Orman Ariani Sitanggang, menjelaskan bahwa kemitraan dengan PP Nasyiatul Aisyiyah dilandasi pertimbangan bahwa Muhammadiyah memiliki ribuan peserta didik yang tersebar di sekolah, madrasah, dan pesantren. Mereka membutuhkan advokasi kesehatan reproduksi agar dapat tumbuh sehat dan produktif.

Ia juga menekankan pentingnya pemenuhan hak dan kebutuhan remaja sebagai aset pembangunan. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan sejumlah data kesehatan remaja, antara lain angka kelahiran hidup pada remaja perempuan usia 15–19 tahun sebesar 20 per 1.000 dan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan sebesar 82 persen. UNFPA juga membawa mandat global untuk mencegah kematian ibu yang dapat dicegah, memenuhi kebutuhan keluarga berencana, serta menghapus kekerasan berbasis gender dan praktik berbahaya seperti perkawinan anak.

Koordinator Tim Peneliti, Ade Nur Fadhilah, mengatakan bahwa pendidikan KRR di lingkungan Muhammadiyah harus ditempatkan dalam konteks pendidikan yang membawa nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Karena itu, dibutuhkan pemetaan berbasis data untuk menemukan bentuk integrasi antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan nilai Islam berkemajuan. Pendekatan ini penting agar pendidikan KRR tidak dipahami semata-mata sebagai transfer informasi tentang organ dan kesehatan reproduksi, tetapi sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Remaja perlu dibekali kemampuan menjaga diri, memahami risiko kesehatan, membangun relasi yang sehat, menghormati batasan dan martabat orang lain, serta bertanggung jawab terhadap pilihan hidupnya.

Pendekatan tersebut juga bersifat inklusif. Kesehatan reproduksi bukan hanya persoalan perempuan. Remaja laki-laki juga perlu memperoleh pemahaman yang memadai tentang kesehatan organ reproduksi, kebersihan diri, risiko kesehatan, batasan pribadi, serta penghormatan terhadap martabat orang lain.

Pendidikan semacam ini penting untuk mempersiapkan remaja laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menghargai perempuan, memahami relasi yang sehat, dan kelak mampu menjalankan peran sebagai suami serta ayah yang peduli terhadap kesehatan dan kesejahteraan keluarga.

Bagi PP Nasyiatul Aisyiyah, riset ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan peran organisasi dalam merespons persoalan aktual generasi muda. Data penelitian nantinya diharapkan menjadi dasar bagi penyusunan program, edukasi, advokasi, dan pengembangan model pembelajaran KRR yang lebih tepat sasaran.

Kolaborasi dengan UGM dan UNFPA juga membuka ruang penguatan kemitraan antara gerakan perempuan muda Muhammadiyah, dunia akademik, dan lembaga internasional. Pendekatan yang dibangun diharapkan berbasis bukti, tetapi tetap sensitif terhadap konteks sosial, budaya, pendidikan, dan nilai-nilai keislaman.

Pertemuan 19 Agustus menjadi tahap penting untuk mematangkan desain dan instrumen penelitian. Setelah pemaparan dan tanya jawab, proses dilanjutkan melalui diskusi kelompok. Riset ini diharapkan menghasilkan peta asesmen kurikulum, kriteria desk review bahan ajar, serta pembagian peran yang jelas antara PPNA, tim peneliti, dan mitra terkait, mulai dari penyusunan instrumen hingga pelaksanaan dan publikasi hasil penelitian.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan riset ini bukan semata-mata tersusunnya sebuah dokumen penelitian. Yang lebih penting adalah apakah hasilnya mampu membantu pendidikan Muhammadiyah menjawab kebutuhan nyata generasi muda.

Pendidikan kesehatan reproduksi diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari pendidikan yang membangun pengetahuan, karakter, tanggung jawab, dan perlindungan diri.

Dengan pendekatan berbasis data dan nilai Islam berkemajuan, pendidikan KRR di lingkungan Muhammadiyah diharapkan dapat dikembangkan secara lebih komprehensif, kontekstual, mencerahkan, dan bermartabat. (Shol)