Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah

JAKARTA — Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah terus mematangkan persiapan Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Muhammadiyah. Program ini dirancang bukan sekadar sebagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensi kepala madrasah, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar mempercepat transformasi Madrasah Muhammadiyah.

Hal tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi persiapan Diksuskamad dan Sekolah Unggul Muhammadiyah yang berlangsung secara daring, Selasa (11/8/2026). Rapat membahas berbagai persiapan, mulai dari kepesertaan, jadwal, tempat pelaksanaan, hingga pembiayaan dan pola sinergi kedua program.

Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, mengatakan Muhammadiyah memiliki pekerjaan besar untuk meningkatkan kualitas Madrasah Muhammadiyah. Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat, terdapat sekitar 1.729 Madrasah Muhammadiyah. Namun, madrasah yang dinilai sudah berada dalam kondisi sehat dan kuat masih relatif sedikit. Sebagian lainnya membutuhkan perhatian, pendampingan, dan intervensi bersama.

“Kita punya PR besar bagaimana kita membesarkan Madrasah Muhammadiyah yang kita cintai ini. Karena itu, dengan adanya Diksuskamad Muhammadiyah ini diharapkan dapat memacu para Kepala Madrasah Muhammadiyah untuk meningkatkan mutunya,” ujar Didik.

Menurutnya, tantangan tersebut tidak mungkin diselesaikan oleh kepala madrasah seorang diri. Diperlukan kerja bersama dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki persyarikatan, mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah hingga satuan pendidikan.

“Tidak ada satu pun orang kita yang hebat semuanya. Yang kita perlukan adalah sinergi, teamwork, kolaborasi, baik itu Pusat, Wilayah, Daerah dan Kepala Madrasahnya,” tegasnya.

Semangat kolaborasi tersebut menjadi salah satu landasan dalam pengembangan berbagai program pembenahan madrasah. Salah satunya melalui pembentukan Duta Madrasah yang diharapkan dapat mengidentifikasi persoalan sekaligus menginspirasi kepala madrasah melalui praktik-praktik baik yang telah berkembang di lingkungan Muhammadiyah.

“Pembentukan Duta Madrasah ini untuk menginspirasi para Kepala Madrasah Muhammadiyah bahwa kita punya banyak madrasah Muhammadiyah yang mutunya bagus dan memiliki siswa lebih dari 500 orang,” tambah Didik.

 

Kepala Madrasah sebagai Penggerak Perubahan

Dalam agenda transformasi tersebut, kepala madrasah menempati posisi yang sangat strategis. Kepala madrasah tidak cukup hanya berperan sebagai administrator yang memastikan kegiatan sekolah berjalan, tetapi harus menjadi pemimpin yang mampu membaca perubahan, membangun visi, menggerakkan guru, dan mengembangkan lembaganya.

Karena itu, Diksuskamad diarahkan untuk memperkuat wawasan, komitmen, kepemimpinan, dan kemampuan manajerial kepala madrasah. Peserta tidak hanya dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan lembaga, tetapi juga didorong untuk memiliki keberanian melakukan perubahan.

“Harapannya, pendidikan khusus untuk para kepala madrasah Muhammadiyah ini akan menjadi ajang untuk perubahan. Madrasah Muhammadiyah yang saat ini biasa-biasa saja dalam tiga dan enam tahun ke depan akan menghasilkan madrasah Muhammadiyah yang unggul dan menjadi pilihan masyarakat,” kata Didik.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Diksuskamad bukan sekadar terselenggaranya pelatihan selama beberapa hari. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi setelah peserta kembali ke madrasah masing-masing.

Kepala madrasah diharapkan mampu menerjemahkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh menjadi program nyata: memperbaiki tata kelola, membangun budaya mutu, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat layanan kepada peserta didik, serta mengembangkan keunggulan lembaga sesuai dengan potensi masing-masing.

Dengan demikian, Diksuskamad diharapkan menjadi titik awal perubahan, bukan titik akhir sebuah pelatihan.

 

Sekolah Unggul “Menggendong” Madrasah

Rapat koordinasi juga membahas hubungan antara Diksuskamad dengan program Sekolah Unggul Muhammadiyah. Kedua program tersebut direncanakan berlangsung dalam waktu yang berdekatan, meskipun memiliki kelas dan fokus kegiatan yang berbeda.

Diksuskamad diarahkan pada penguatan kapasitas kepala madrasah, sementara Sekolah Unggul difokuskan pada peningkatan kualitas layanan, mutu, dan prestasi satuan pendidikan.

Namun, sinergi keduanya tidak berhenti pada kesamaan waktu pelaksanaan. Ada gagasan yang lebih besar, yakni membangun ekosistem pendidikan Muhammadiyah yang memungkinkan satuan pendidikan yang telah berkembang ikut memperkuat satuan pendidikan yang masih membutuhkan dukungan.

Sekolah dan madrasah unggul diharapkan dapat “menggendong” sekolah dan madrasah yang belum kuat melalui berbagi pengalaman, praktik baik, penguatan layanan, pendampingan, bahkan dukungan pembiayaan.

“Kami minta agar sekolah dan madrasah unggul bisa ‘menggendong’ sekolah dan madrasah yang belum bagus, sehingga sekolah dan madrasah unggul dapat menjadi model bagi sekolah dan madrasah lainnya,” ujar Didik Suhardi, yang juga merupakan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah tidak boleh berlangsung secara individual. Sekolah atau madrasah yang sudah maju diharapkan tidak hanya menikmati keberhasilannya sendiri, tetapi ikut menjadi sumber belajar dan kekuatan bagi lembaga lain.

Dalam rapat juga dibahas kemungkinan adanya surplus dari program Sekolah Unggul yang dapat digunakan untuk membantu meringankan pembiayaan Diksuskamad. Gagasan ini sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam membangun ekosistem pendidikan Muhammadiyah.

 

Persiapan Diksuskamad

Sementara itu, persiapan teknis Diksuskamad terus dilakukan. Tim melakukan verifikasi dan sinkronisasi data peserta dari berbagai wilayah untuk memastikan kepala madrasah yang menjadi sasaran program dapat terakomodasi dengan baik.

Data awal yang semula mencapai lebih dari 250 peserta, setelah dilakukan pengecekan dan sinkronisasi, diperkirakan menjadi sekitar 150 peserta. Perbedaan data di sejumlah wilayah masih dalam proses klarifikasi.

Diksuskamad gelombang pertama direncanakan berlangsung selama empat hari mulai Kamis, 27 Agustus 2026. Pada waktu yang berdekatan, program Sekolah Unggul juga dipersiapkan oleh tim terkait. Karena itu, sinkronisasi jadwal, tempat, kepesertaan, dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) masih terus dilakukan.

Pada akhirnya, Diksuskamad diharapkan tidak berhenti sebagai program peningkatan kompetensi kepala madrasah. Program ini diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk melahirkan pemimpin madrasah yang mampu menggerakkan perubahan.

Kepala madrasah yang memiliki visi, berani melakukan inovasi, mampu membangun teamwork, dan terbuka terhadap kolaborasi diharapkan dapat membawa madrasahnya tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan semakin dipercaya masyarakat.

Dengan semangat sinergi, teamwork, kolaborasi, dan gotong royong, Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah berharap Diksuskamad dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk mempercepat transformasi Madrasah Muhammadiyah.

Sebab, penguatan kepala madrasah pada akhirnya bukan semata-mata tentang meningkatkan kapasitas seorang pemimpin. Lebih jauh dari itu, ia merupakan investasi untuk memperkuat lembaga, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, dan memastikan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang semakin baik. (Shol)