Yogyakarta – Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus menjaga amanat umat dan bangsa melalui pendidikan kader perempuan yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap mengabdi bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan.
Keberadaan Madrasah Mu’allimat yang telah berusia lebih dari satu abad menjadi bukti tingginya kepercayaan umat Islam dan masyarakat Indonesia terhadap lembaga kaderisasi perempuan Muhammadiyah.
Hal tersebut disampaikan Direktur Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah, Unik Rasyidah, dalam diskusi di Kampus Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah, Suronatan, Kauman, Yogyakarta, Jumat (26/6/2026).
Menurut Unik, kepercayaan masyarakat tercermin dari asal daerah para lulusan yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia, termasuk kawasan luar Pulau Jawa.
“Pada wisuda awal Mei lalu, para lulusan berasal dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa. Ini menunjukkan bahwa Madrasah Mu’allimat telah menjadi representasi kepentingan umat Islam Indonesia dalam menyiapkan kader-kader perempuan yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi,” ujarnya.
Sebaran lulusan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa Mu’allimat tidak lagi sekadar menjadi lembaga pendidikan di Yogyakarta, melainkan telah berkembang menjadi institusi kaderisasi berskala nasional yang dipercaya umat dan masyarakat.
Menurut Unik, capaian tersebut merupakan buah dari ketulusan dan pengabdian para guru, ustaz, dan ustazah Muhammadiyah yang selama puluhan tahun menanamkan tradisi pendidikan, dakwah, dan pembinaan kader.
“Kiprah panjang pendidikan di Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah membuktikan bahwa amal tulus para guru, ustaz, dan ustazah di masa lalu terus berbuah hingga hari ini. Apa yang mereka tanamkan telah melahirkan generasi penerus yang melanjutkan perjuangan Muhammadiyah di berbagai bidang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tingginya kepercayaan masyarakat merupakan amanat besar yang harus dijaga melalui peningkatan mutu pendidikan dan kaderisasi.
“Kepercayaan masyarakat bukan hanya patut kita syukuri, tetapi juga menjadi tanggung jawab besar untuk terus menjaga mutu pendidikan dan melahirkan kader-kader terbaik bagi umat dan bangsa,” katanya.
Menguatkan Sains dan Karakter Muhammadiyah
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Unik mengatakan Mu’allimat terus mempelajari berbagai praktik baik yang diterapkan lembaga pendidikan lain. Salah satu yang menjadi rujukan ialah MAN Insan Cendekia Serpong yang dinilai berhasil mengintegrasikan sains, teknologi, dan pendidikan agama secara harmonis.
Menurutnya, model pendidikan tersebut relevan untuk memperkuat ikhtiar Mu’allimat dalam melahirkan kader perempuan Muhammadiyah yang unggul dalam ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.
“Kami ingin belajar dari keberhasilan MAN Insan Cendekia Serpong dalam mengintegrasikan sains dan agama. Mereka mampu melahirkan generasi muda yang cerdas, kritis, berprestasi dalam bidang sains, tetapi tetap memiliki karakter Islami yang kuat. Model seperti ini sangat relevan untuk terus kami kembangkan di Mu’allimat,” ujarnya.
Unik menegaskan bahwa penguatan sains tidak dimaksudkan untuk mengurangi porsi pendidikan agama. Sebaliknya, penguasaan sains dan teknologi merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam menjawab tantangan zaman.
“Target kami adalah melahirkan kader perempuan Muhammadiyah yang memiliki kedalaman ilmu agama, unggul dalam sains dan teknologi, berpikiran terbuka, mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus tetap teguh membawa misi dakwah dan tajdid,” tambahnya.
Menurut Unik, integrasi ilmu agama, sains, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi fondasi penting agar lulusan Mu’allimat tidak hanya menjadi pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga tampil sebagai intelektual Muslim yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Pengembangan sains di Mu’allimat bukan semata-mata untuk mengejar prestasi akademik, tetapi untuk melahirkan kader perempuan Muhammadiyah yang mampu menjawab persoalan bangsa melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan,” katanya.
Menjadi “Anak Panah Muhammadiyah”
Unik mengatakan arah kaderisasi Mu’allimat sejalan dengan pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, yang berulang kali mengingatkan bahwa lulusan Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat merupakan kader Persyarikatan yang harus tetap membawa misi Muhammadiyah di mana pun mereka berada.
“Menurut Prof. Haedar, para alumni merupakan ‘anak-anak panah Muhammadiyah’ yang dilepaskan dari busur Persyarikatan untuk mengemban misi dakwah dan tajdid di tengah kehidupan masyarakat. Karena itu, para lulusan diharapkan tetap menjadi kader Muhammadiyah ketika kelak menjadi pemimpin di berbagai bidang kehidupan, baik sebagai akademisi, birokrat, profesional, pengusaha, maupun tokoh masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa lulusan Madrasah Mu’allimat memiliki identitas yang khas. Mereka tidak cukup hanya dikenal sebagai lulusan sekolah yang baik, tetapi juga harus memperlihatkan karakter Muhammadiyah melalui integritas, cara berpikir, dan perilaku sehari-hari.
Menurutnya, para lulusan perlu terus menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi, aktif di Persyarikatan dan organisasi otonom Muhammadiyah, serta menjaga komitmen terhadap nilai-nilai yang telah ditanamkan selama masa pendidikan.
Ia juga menekankan pentingnya membangun alam pikiran Islam Berkemajuan yang berlandaskan akidah yang kokoh, ibadah yang benar, akhlak mulia, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, serta orientasi pada kemajuan peradaban.
Menurut Unik, Islam Berkemajuan menjunjung tinggi martabat perempuan dan laki-laki secara setara.
“Kalau ada yang merendahkan kaum perempuan, berarti belum berpandangan Islam Berkemajuan,” ujarnya.
Selain itu, lulusan diharapkan memiliki sikap terbuka dalam kehidupan bermasyarakat, mampu berdialog dan bersahabat dengan siapa pun, termasuk mereka yang berbeda agama, tanpa kehilangan identitas keislaman dan kemuhammadiyahannya.
Unik mengakui bahwa dirinya mengemban tanggung jawab besar untuk menjaga ideologi Muhammadiyah agar para alumni tetap menjadikan nilai-nilai Persyarikatan sebagai landasan berpikir dan bertindak.
“Sebagai generasi yang hidup di era modern, para lulusan Mu’allimin dan Mu’allimat dituntut menjadi insan ulul albab, yaitu pribadi yang mengedepankan akal sehat, membudayakan tradisi iqra’, mencintai ilmu pengetahuan, dan menghadirkan pencerahan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Bagi Unik, pesan-pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut menjadi pedoman dalam mengembangkan Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah.
“Amanat ini kami jaga selama lebih dari satu abad. Kami tidak hanya mempertahankan kepercayaan masyarakat, tetapi juga memastikan setiap lulusan mampu menjadi kader perempuan Islam Berkemajuan yang berintegritas, unggul dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam ideologi Muhammadiyah, serta siap mengabdi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tutupnya. (Shol)
