Masjid Kauman Yogyakarta megah berdiri. Kokoh di antara luasnya alun-alun, deretan pohon beringin tumbuh angker, setia menjaga marwah kasultanan. Sebuah monumen yang mengisahkan pertautan jiwa dan pikiran antara Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan saat itu.

Ulama dan Umara

Betapapun Kiai Dahlan berusaha mewarisi para pendahulunya untuk tetap beriringan bersama Sri Sultan sebagai Sayyidin Panotogomo, menegakkan tiang agama beramar ma’ruf dan nahi munkar. Bukan mengambil posisi saling berhadapan.

Pun dengan kakek buyutnya, Kiai Wiryokusumo bersama Sri Sultan Hamengkubuwana I sebagai pendiri dan penggagas Masjid Kauman Yogyakarta, yakin bahwa menegakkan syariat agama tak bisa dilakukan sendirian. Keduanya bahu-membahu meletakkan dasar-dasar keagamaan. Islam menjadi tegak berdiri, kokoh, dan kuat karena ulama dan umara berdiri dalam satu shaf.

Bukan seperti saat sekarang, ulama dan umara saling merendahkan dan mencela akibatnya perpecahan ada dimana-mana. Jangan salahkan bila penguasa membiarkan pintunya terbuka berteman dengan berandal dan kecu karena ulama pergi menjauh. Bahkan, tak jarang bermusuhan dengan alasan nahi munkar. Para wali menutup rapat pintu dan jendela penguasa dengan doa dan dzikir. Menugaskan para santrinya menjaga halaman para penguasa agar tak dimasuki para berandal dan pencoleng. Termasuk membangun masjid di Alun-alun kraton sebagai simbol kekuasaan agama atas umara.

Muhammad Darwis

Muhammad Darwis, pemuda cerdas, pemberani, dan pintar telah memikat hati Sri Sultan. Lahir di antara puluhan tokoh dan ulama dengan pemahaman tua yang merapuh. Darwis menjanjikan banyak harapan juga cita-cita kaum muda. Sinuhun bersetuju dengan semua pikiran dan gagasan Darwis. Darwis adalah tipikal pemuda cepat belajar, tumbuh pesat dengan pengetahuan luas melampaui zamannya. Tak heran, banyak gagasan dan pikirannya melawan kemapanan.

Tidak sedikit ulama tertarik dengan gaya dan pikiran progresifnya. Sri Sultan pun terpikat, meski kemudian ‘memaksanya tetirah’ dengan menunaikan ibadah haji untuk menghindari polemik kaum tua dan kaum muda. Cara cerdas mengatasi masalah.

Muhammadiyah

Muhammadiyah lahir dari rahim Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dari pergumulan pusat pemikiran, adat, dan tradisi kekuasaan Jawa. Dari sinilah Muhammadiyah lahir dan dibesarkan.  Kiai Dahlan, cicit Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan keluarga Katib dan Imam besar Masjid Kauman Yogyakarta mengawali pergerakan. Langgar Kidoel masih megah berdiri, kokoh sebagai saksi.

Saatnya merajut kembali, menyatukan kembali, mentautkan kembali pikiran dan gagasan yang dulu, tepatnya 108 tahun yang lalu, pernah lekat bertaut. Saling menopang dan mendukung laksana dua mata pedang. Semangat kebangsaan yang sama, ghirah yang sama antara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan gagasan pembaharuan Kiai Besar Ahmad Dahlan.

Roh Katon dalam jiwa pergerakan Muhammadiyah layak kembali ditumbuhkan. Sebuah esensi pergerakan yang menurut saya sempat menyusut beberapa saat. Sejenak kita pernah melupakan kraton. Kita berpaling ke lain hati. Bagaimanapun Sri Sultan Hamengkubuwana entah siapapun orangnya yang jumeneng adalah bapaknya Muhammadiyah, bukan presiden atau semacamnya.

Muktamar Muhammadiyah

Muktamar Muhammadiyah mestinya sesekali dibuka dan ditutup oleh Sinuhun Sri Sultan, simbol kekuasaan Islam di Jawa. Syukur bisa dilaksanakan di ‘ndalem Kraton.’ Sebuah episentrum pusat kekuasaan dan tradisi Jawa yang sempat kita lupakan. Kita sibuk dengan urusan ‘Jakarta.’ Kita lupa bahwa Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, besar juga di Yogyakarta, dan membawa ruh dan karakter Yogyakarta.

Sungkeman rombongan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepada ‘Panjenengan Dalem Sinuhun’ Sri Sultan Hamengkubuwana X’ adalah saat yang sangat tepat, sebelum maupun sesudah Muktamar Muhammadiyah di Solo. Muhammadiyah kembali ke rumahnya. Tidak ada kata terlambat, kita terus bergerak. Mencari keseimbangan di saat negara oleng dan merapuh. Baca Juga  Prediksi Kuntowijoyo: Muhammadiyah 2020-2025 dan Teologi Kesejahteraan Persyarikatan ini selalu diberkati, demikian kata peneliti senior dari Amerika Carl Whiterington, tiga puluh delapan tahun silam. Selalu bertindak benar di saat yang tepat. Sungkeman yang pas untuk situasi saat ini. Menjadi guru bangsa. Menjaga kebesaran dan marwah Persyarikatan.

Editor: Arif

Sumber : https://ibtimes.id/muktamar-muhammadiyah-sesekali-perlu-dibuka-oleh-sultan-yogyakarta/

Hubungi via Whatsapp!