Solokuro, 18 Juni 2026 — Pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia, tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan batin dan membentuk karakter. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan agar sehat dan kuat, hati serta pikiran manusia memerlukan asupan berupa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama.
Apabila kebutuhan hati dan pikiran tidak terpenuhi, seseorang dapat mengalami ketidakseimbangan dalam kehidupan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kekosongan jiwa yang berdampak pada ketidakstabilan emosi, mudah terpengaruh oleh lingkungan, lemahnya pendirian, serta berkurangnya ketenangan hidup.
Pentingnya pendidikan karakter inilah yang menjadi salah satu penekanan dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, dalam acara purnawiyata Perguruan Muhammadiyah Palirangan, Solokuro, Jawa Timur, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di halaman Kompleks Perguruan Muhammadiyah Palirangan tersebut diikuti oleh peserta didik dari jenjang KB, TK ABA, MI Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah, hingga MA Muhammadiyah. Acara juga dihadiri jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah Solokuro serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Sholihin menjelaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah berorientasi pada pembentukan manusia yang memiliki empat karakter utama yang dikenal dengan konsep 4T dan S, yaitu Tilawah, Tazkiyah, Taklim, Tauhid, dan Sukses.
Menurutnya, Tilawah merupakan kemampuan untuk gemar membaca dan memahami berbagai fenomena, baik secara tekstual maupun kontekstual. Melalui tilawah, peserta didik diharapkan memiliki kecerdasan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah.
Karakter kedua adalah Tazkiyah, yaitu proses penyucian jiwa. Pendidikan Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan pribadi yang bersih hatinya, jernih pikirannya, serta dekat dengan Allah SWT. Orang yang memiliki jiwa yang bersih akan terhindar dari sifat iri, dengki, dan takabur, serta memiliki sikap rendah hati dan lapang dada.
Selanjutnya, Taklim dimaknai sebagai pembentukan insan yang berilmu dan bijaksana. Dalam pandangan para ulama, taklim berkaitan dengan kemampuan memahami apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang harus dihindari dalam kehidupan. Dengan bekal ilmu dan hikmah, seseorang akan mampu mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat.
Karakter berikutnya adalah Tauhid, yakni keyakinan yang lurus kepada Allah SWT. Muhammadiyah menanamkan nilai tauhid yang murni dan menjauhkan peserta didik dari segala bentuk kemusyrikan. Orang yang memiliki tauhid kuat ditandai dengan kesungguhan dalam beribadah, banyak berdoa, dan menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya.
Adapun huruf S bermakna Sukses, yaitu keberhasilan yang tidak hanya diukur dari capaian duniawi, tetapi juga keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Pendidikan Muhammadiyah, kata Sholihin, berupaya mencetak generasi yang mampu meraih kesuksesan dunia dan akhirat sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Hasil pendidikan Muhammadiyah melalui konsep 4T dan S ini harus menjadi bekal bagi para lulusan untuk meraih kesuksesan serta keselamatan hidup di dunia dan akhirat,” ujarnya.
Purnawiyata tersebut berlangsung khidmat dan menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk melanjutkan perjalanan pendidikan maupun pengabdian di tengah masyarakat dengan berbekal nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan yang kuat.
