Sidoarjo – Penguatan Tujuh Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Muhammadiyah (SPMB) menjadi materi utama dalam pembinaan bagi para pembina, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala urusan (KAUR), dan wali kelas SMK Muhammadiyah 1 dan SMK Muhammadiyah 2 Taman (VOCATAMA) Sidoarjo dalam rangka menyongsong Tahun Ajaran Baru 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung di Aula SMK Muhammadiyah 1 dan 2 Taman pada Rabu (8/7/2026) tersebut menghadirkan Sholihin, Pimpinan Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, sebagai narasumber.
Dalam pembinaannya, Sholihin menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sekolah Muhammadiyah harus dijaga melalui budaya mutu yang berkelanjutan. Menurutnya, masyarakat saat ini tidak hanya mencari sekolah yang unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga mengharapkan pelayanan pendidikan yang profesional, ramah, dan berorientasi pada kepuasan peserta didik serta orang tua.
“Masyarakat membutuhkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas, baik secara akademik maupun pelayanan. Alhamdulillah, masyarakat telah mengakui bahwa pendidikan Muhammadiyah merupakan pendidikan yang bermutu dan berkualitas,” ungkapnya.
Sholihin menjelaskan bahwa pengakuan masyarakat tersebut merupakan amanah yang harus dijaga dengan mengimplementasikan Tujuh Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Muhammadiyah (SPMB) secara konsisten di seluruh sekolah Muhammadiyah. Menurutnya, SPMB merupakan kerangka strategis yang menjadi acuan dalam membangun budaya mutu sekaligus meningkatkan daya saing sekolah Muhammadiyah di tengah perkembangan dunia pendidikan.
Ia memaparkan bahwa Tujuh Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Muhammadiyah meliputi penguatan kepemimpinan kepala sekolah yang visioner, pengelolaan sumber daya manusia yang profesional, pelayanan prima kepada seluruh pemangku kepentingan, peningkatan prestasi akademik dan nonakademik, penguatan implementasi ISMUBARIK sebagai ciri khas pendidikan Muhammadiyah, pengembangan kemitraan dengan berbagai pihak termasuk Persyarikatan Muhammadiyah, serta pelaksanaan sistem penjaminan mutu yang dilakukan secara berkelanjutan di setiap satuan pendidikan.
Menurut Sholihin, implementasi ketujuh sistem tersebut harus berjalan seiring dengan pemenuhan Delapan Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar kompetensi lulusan, isi, proses, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, serta pembiayaan. Dengan demikian, sekolah Muhammadiyah tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga memiliki keunggulan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi SPMB sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan sekolah. Pelayanan pendidikan yang bermutu diwujudkan melalui kemampuan sekolah membangun hubungan yang harmonis dengan orang tua, terbuka terhadap masukan yang membangun, memberikan pelayanan dengan sepenuh hati, menjunjung tinggi keteladanan, menghargai harkat dan martabat setiap orang, serta membiasakan budaya 5S, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
Selain sistem yang kuat, Sholihin menilai bahwa keberhasilan sekolah Muhammadiyah juga sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Ia menegaskan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan Muhammadiyah harus menjadi pribadi yang dapat dipercaya, memiliki rasa percaya diri, siap menghadapi perubahan, memiliki militansi dalam berjuang memajukan pendidikan, mampu menjadi pembimbing, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta terus mengembangkan kompetensinya sesuai tuntutan zaman.
Menurutnya, penerapan Tujuh Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Muhammadiyah bukan sekadar memenuhi standar administrasi, melainkan membangun budaya mutu yang hidup dalam setiap aktivitas sekolah sehingga mampu menghasilkan layanan pendidikan yang unggul dan berkelanjutan.
Keberhasilan penguatan mutu tersebut mulai terlihat dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap SMK Muhammadiyah 1 dan 2 Taman Sidoarjo. Sholihin menyampaikan bahwa jumlah peserta didik baru pada Tahun Ajaran 2026/2027 meningkat secara signifikan. Jika pada tahun sebelumnya sekolah menerima sekitar 185 murid, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 359 murid.
Peningkatan jumlah peserta didik tersebut menjadi indikator bahwa budaya mutu, pelayanan prima, dan implementasi Tujuh Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Muhammadiyah telah memberikan dampak positif terhadap kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, melalui pembinaan ini seluruh pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan semakin memperkuat komitmen dalam mengimplementasikan SPMB secara konsisten sehingga sekolah Muhammadiyah terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang unggul, berkemajuan, dan menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencetak generasi yang berilmu, berkarakter, serta berdaya saing di tingkat nasional maupun global.
